Tol Laut Di Alor Belum Bermanfaat Untuk Pelabauhan Moru; Muas Kamis : Pelabuhan Moru Tidak Sesuai Spek

Ketua Fraksi Demokrat, Reiner Atabui

Ketua Fraksi Demokrat, Reiner Atabui

Kupang, Safari NTT- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Alor sangat menyesal dengan tol laut yang melintasi Kabupaten Alor, namun sampai dengan saat ini tol laut tersebut tidak dimanfaatkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Alor. Pasalnya, Kapal yang digunakan untuk mengangkut berbagai keperluan masyarakat Alor dari luar pulau Alor setelah itu dapat mengangkut hasil bumi masyarakat dari alor ternyata belum ada realisasi. Untuk itu, Pemkab Alor sudah harus berpikir untuk, tol laut tersebut pulang dalam kondisi kosong.

Hal ini disampaikan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kabupaten Alor, Rey Atabui di Hotel Ima, Sabtu 25 Maret 2017 sekitar pukul 15.00 wita.

Lanjut Atabui, kehadiran tol laut sangat membantu masyarakat sehingga diharapkan agar setelah tol laut membongkar barang dan pulang minimal membawa hasil bumi, seperti komoditi alor yang dijual di luar Alor.

DPRD Alor sedang melakukan desakan ke pemerintah agar masyarakat alor yang memiliki komoditi unggulan di alor sedapat mungkin dapat dibawah keluar dengan menggunakan tol laut dengan biaya yang rendah pula.

” Kemarin itu ada sekitar 21 kontainer di pelabuhan Moru yang pulang kosong,” tutur Atabui.

Itu membuktikan bahwa masyarakat yang memiliki hasil komoditi tidak bisa untuk melakukan transaksi ke luar Daerah. Minimal, usaha Kecil Menengah bisa tumbuh dari kehadiran tol laut di Alor selain itu ekonomi masyarakat juga bisa tumbuh dari tol laut yang disediahkan pemerintah pusat.

” ini yang tidak berjalan secara baik. Jika masyarakat menggunakan tol laut sebagai salah satu sarana berdagang maka dengan sendirinya pertumbuhan ekonomi dapat berjalan dengan baik,” ungkap Atabui.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Alor Abdul Muas Kamis ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa ada banyak permasalahan teknis setelah diresmikan menteri perhubungan, Ignatius Jonan. Akibat persoalan teknis tersebut sampai dengan saat ini pelabuhan bongkar muat Moru tidak digunakan.

Lanjut Muas, Saat ada kebijakan pemerintah pusat terkait dengan pelayaran tol laut Pemerintah Kabupaten Alor mencoba untuk menggunakan. Namun, banyak pengusaha yang melakukan komplain karena alasan teknis. Membuat pelayaran tol laut selalu sepin dengan muatan. Sementara untuk kapal laut milik pengusaha lebih cenderung berada di pelabuhan kalabahi.

 

” Kami coba fungsikan di tahun 2016 tetapi banyak pengusaha yg komplain dengan alasan teknis,  sehingga kapal tol laut selalu sepi muatan, mereka cenderung memilih pelayaran swasta yg berlabuh dipelabuhan kalabahi,” ucap Muas.

Dikatakan bahwa persoalan yang paling utama adalah masalah Konstruksi bangunan. Dimana, dugaan kuat bahwa konstruksi bangunan tidak sesuai dengan spek sehingga saat ada kapal yang sandar pelabuhan tersebut tergoyang.

Persoalann pelabuhan yang tidak kuat, lanjut Muas ini juga diakui oleh konsultan kementerian perhubungan. Dan, persoalan tersebut telah disampaikan ke kementerian oleh staf ahli sendiri untuk dilakukan perbaikan.

” Masalah utama pelabuhan moru yaitu masalah konstruksi pelabuhan. Pelabuhan bergoyang saat kapal sandar.  Kondisi ini diketahui dan dibenarkan konsultan kementrian perhubungan saat melakukan pemeriksaan. Namun, menurut mereka, persoalan konstruksi jembatan akan segera di rekomendasikan ke kementrian utk diperbaiki,” jelas Muas.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *