Kelola Panti Asuhan Butuh Kesabaran

  • Bagikan
Panti Asuhan
Anak - anak Panti Asuhan sedang belajar secara online

TAMBOLAKA,SAFARINTT – Dalam mengelola panti asuhan faktor yang sangat dibutuhkan yaitu kesabaran.

Pengelolaan yang membutuhkan rasa cinta dalam pengabdian, jika sifat dasar pengelolaan panti asuhan ini tidak dimiliki maka panti tersebut bisa ditutup.

Hal ini disampaikan Pengelola Yayasan Hati Nurani Sumba, Agnes Lali Mila, Kamis (14/10/2021) di Desa Watu Kawula, Sumba Barat Daya.

Bisa tutup sebab lembaga kesejahteraan sosial anak menampung anak dari latar belakang serta karakteristik.

Lali Milla lanjut, pengelolaan panti Asuhan itu  harus dengan Cinta pengabdian.

Kata Lali Milla Yayasan Hati Nurani Sumba merupakan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).

Baca Juga:  Kapolres Mandagi Pantau Langsung Pilkades Serentak Sumba Barat Daya

Lembaga ini berdiri pada 27 Juli 2021, Awal mendirikan Panti asuhan hanya ada 8 orang anak.

Dari 8 anak bertambah menjadi 12 orang dan setiap tahun selalu ada penambah 30 – 40 orang anak.

“Anak anak ini yang ditampung mempunyai riwayat penyakit disabilitas. Seperti, cacat fisik,”ujar Lali Milla

Karena anak cacat fisik, kata Lali Milla membimbing dan mengasuhpun tidak bisa dilakukan sama seperti anak normal pada umumnya.

“Tapi harus dilakukan dengan penuh kasih sayang dan perhatian,”tutur Lali Milla.

Selain itu, anak yang dibina dan dibimbing juga dari usia usia nol tahun  sampai pada usia kulia.

Baca Juga:  DPRD Sumba Barat Daya Berduka Cita Atas "Berpulangnya" Satu Anggota

Menurut pengelola yayasan ini, anak -anak yang ditampung di lembaga sosial ini berasal dari seluruh pelosok Kabupaten Sumba Barat Daya.

“Masing-masing dari wilayah Laura,Weejewa, wilayah kodi dan ada dari wilayah Tanah Ringhu,”ucap Lali Milla.

Cikal Bakal Lahirnya Panti Asuhan

Cikal bakal lahirnya Panti Asuhan Hatu Nurani Sumba berawal dari pembukaan PAUD tahun 2015.

Saat buka PAUD tahun 2015 langsung digabungkan dengan TK dan waktu itu ada 85 orang siswa.

Lanjut Lali Milla, saat ini TK-PAUD memiliki 1 pengelola dan 4 orang pendidik.

“Tahun  2020 dibuka lagi  PAUD hati nurani 2 di desa Waikabala, kecamatan Laura,”ucap Lali Milla.

Baca Juga:  Sadis…. Ini Model Perampokkan Di Kodi, “Bawa Parang Saat Lakukan aksi Pencurian”

Saat pembukaan PAUD di desa Waikabala, kecamatan Laura jumlah murid 30 orang dengan 1 pengelola, 2 pendidik.

Semua yang dilakukan, baik Yayasan, Pantis Asuhan dan lembaga pendidikan dilakukan berdasarkan tekad, kemauan, serta setia membangun relasi dengan Tuhan.

Saat ini Yayasan Hati Nurani Sumba masih mengalami begitu banyak kekuranga dan diharapkan ada perhatian pemerintah maupun NGO.

“Masih kurang sarana dan prasarana dan juga masih mengharapkan satu gedung yang fungsinya ganda,”kata Lali Milla.

Gedung ini dapat dijadikan tempat permainan anak dikala panas dan hujan sebagai tempat bermain anak.

anak

(Moses/Red/SAFARINTT)

  • Bagikan