Ini Penjelasan Bupati Kupang, Soal Kehadiran Menteri Perhubungan Beberapa Menit Di Kandang Sapi  Oesao

  • Bagikan
Bupati Kupang, Korinus Masneno

Oelamasi – Kehadiran Menteri Perhubungan Karya Sumadi di Kandang Sapi milik warga Oesao yang mengejutkan masyarakat Kabupaten Kupang mendapat respon dari Bupati Kupang, Korinus Masneno. Menurut Bupati Kupang, Kehadiran menteri Perhubungan, Karya Sumadi walaupun hanya beberapa menit namun memiliki arti yang mendalam bagi para pengusaha peternak sapi di Kabupaten Kupang.

Kehadiran menteri perhubungan ini ingin mencari tahu kebenaran potensi ternak di kabupaten Kupang merupakan, Kabupaten lumbung ternak sapi yang dikirim ke Pulau Jawa dan Kalimantan. Sehingga, bagi warga yang tidak tahu pasti menjadi tanda Tanya, hubungan antara menteri Perhubungan dan ternak sapi.

Hal ini disampaikan Bupati Kupang, Korinus Masneno kepada awak media diruang kerjanya, Kamis 12 November 2020.

BACA JUGA : Kunjungan Menteri Perhubungan Di Oesao, Tercepat Dalam Sejarah Kunjungan Pejabat Negara Di Daerah

Dikatakan bahwa kehadiran menteri perhubungan ingin memastikan potensi ternak sapi di kabupaten Kupang sebab dirinya pernah mengadukan kapal tol laut yang digunakan untuk mengantar pulaukan sapi. Sebab, kapal tol laut, daya muat sekali jalan hanya mampu menampung 500 ekor sapi sementara pengusaha kabupaten Kupang yang mengantar sapi ke jawa dan Kalimantan harus memenuhi pasar.

“ Musim lebaran atau hari raya qurban, Pasar di Kalimantan minta sampai 2000 ekor jika menggunakan tol laut karena kemudahan kepada satu pengusaha asal kabupaten kupang hanya 50 ekor, 10 pengusaha di satu kapal. Kalau 10 pengusaha maka hanya mampu menampung 500 ekor, masih kurang 1500 ekor untuk pengiriman ke Kalimantan,” ungkap Masneno.

Dikatakan bahwa mengapa pengiriman ternak dengan menggunakan tol laut karena tingkat penyusutan timbangan hanya 15 persen. Untuk itu, dibutuhkan adanya penambahan armada kapal tol laut, kapasitas angkut yang lebih besar. Sebab, kalau bicara peternakan tidak bisa bicara hanya penggemukan tapi harus dibicara total, dimana dibicarakan mulai dari pakan ternak tapi juga penggemukan, ternak masuk pasar sampai dengan income per kapita bagi masyarakat di kabupaten Kupang.

“ Untuk itu harap dimaklumi, kehadiran menhub hanya ingin memastikan benar tidak kabupaten kupang punya stok sapi, sehingga saat bincang-bincang dengan menteri saya bilang ini baru satu orang punya, tetapi rata-rata di kabupaten kupang memlihara ternak dan penggemukan ternak merupakan budaya,” jelas Masneno.

Karena Budaya, kata Masneno lanjut, saat ini kabupaten kupang memiliki lebih dari 80 ribu Kepala Keluarga, dapat dikatakan 20 ribu KK tidak memelihara ternak dan 60 ribu KK pelihara ternak sapid an minimal 1 KK dua ekor dan mekanisme pemeliharaan hanya 6 bulan sampai 1 tahun.  Kalau pergerakan pemeliharaan hanya berkisar 6 bulan sampai 1 tahun maka pergerakan sapi di kabupaten cukup tinggi.

“ Dengan pergerakan pemeliharaan yang tinggi, pasar lokal tidak dapat menampung pergreakan sapi sehingga butuh alat transportasi,” Ujarnya.

Dirinya juga mengatakan bahwa dalam perbincangan juga, Menhub meminta agar dalam kurun waktu 2 tahun tidak boleh melakukan pengiriman sapi, jika bisa dikirim dalam bentuk daging mentah ke Jawa dan Kalimantan. Dan, diharapkan agar Kabupaten Kupang memiliki sehingga dapat memenuhi standar konsumsi.

Kata Bupati Masneno, dihadapan Bupati dirinya mengatakan bahwa selama ini kabupaten Kupang mendapat jatah pengiriman sesuai SK Gubernur NTT 16.000 ekor dalam satu tahun itupun masih mengalami kekurangan. Sebab, selama ini pengiriman tidak menggunakan standar ekor tapi menggunakan standar berta badan sapi.

“ Sapi yang dikirim itu berat badan mencapai 275 kg keatas kalau dibawah dan hanya 250 kg saja masih dipertimbangkan akan tetapi kebawahnya lagi tidak dapat dikirim sama sekali,” tutur Bupati Masneno.

“ Jadi kalau tidak paham pasti akan jadi tanda tanya, Beliau ko datang lihat sapi ?, tapi tidak, kehadiran beiau itu ada korelasinya,” tutup Masneno (***)

  • Bagikan