Edmundus Sila sedang memasukan gula merah ke wadah yang sudah disiapkan untuk dipasarkan

Kefamenanu – Masyarakat Kelurahan Benpasi, yang mana ada dua Rukun Tetangga (RT), yaitu RT 21 dan RT 22 merupakan mayoritas warga pembuat gula batu/aren. Kedua RT di Kelurahan Benpasi ini terkenal  di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT sebagai daerah pembuat gula merah.

Ini saksikan langsung safarintt.com pada 01 Agustus 2020 di lokasi kedua RT tersebut.

Edmundus Sila, salah satu pengrajin gula merah memberikan penjelasan proses pembuatan gula merah yang melewati beberapa tahapan.

Pertama : ‘Hel Tua Nukuf’ atau iris tuak, yaitu tahap awal pembuatan dengan cara dijepit agar nira atau tuaknya bisa keluar, dijepit sekali bahkan dua kali itu tergantung jenis tuak, dan diiris di pagi lalu niranya diambil pada sore hari dan iris pada malam hari dan niranya diambil keesokan harinya, lalu ditadah dalam sebuah tempayan anyamam dari daun lontar yaitu ‘tne’e’ yang dimasukan dalam anyaman yang lebih besar atau ‘Kola’ (bahasa dawan TTU).

Kedua : Tahap Penyaringan, yaitu proses pembersihan nira dari serangga dan kotoran dedaunan kering.

Ketiga : Tahap memasak, yaitu menggunakan tungku tanah atau ‘ra’o’ agar sumber panasnya tidak menyebar, tahap ini akan dituangkan sedikit bimoli agar gulanya jangan menguap keluar, dan proses memasak ini sampai matang sekitar 2-3 jam.

Keempat : Persiapan menuju hasil akhir, yaitu gulanya disalin dari periuk ke tempurung kelapa atau ‘kubi’ dan ditumbuk menggukan sepotong kayu dengun tujuan agar cepat kering saat dituang dalam gelang.

Kelima : Disalin dalam gelang atau ‘niti’ yang terbuat dari daun lontar, ukurannya disesuaikan dengan lebarnya gelas kecil, dan menjelang 3 menit pun gulanya akan mengering dan menjadi gula batu, lalu hasilnya siap dipasarkan. (Defri).

Baca Juga:  Sosialisasi KUR, Erico Gutteres Temui Warga Tablolong

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia